Berita:Lebih Dekat Bersama Tim Resque Damkar Paser

Siaran Pers

Tana Paser-Disebuah kantor disudut jalan Jenderal Sudirman Nomor 113, seberang Hutan Kota Paser, terlihat pria-pria berseragam biru yang terlihat santai namun sesungguhnya siap siaga menerima laporan masyarakat. Adalah Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Paser setahun lewat mengisi bangunan tersebut. Ketika mereka menerima laporan dalam hitungan detik mereka akan bergegas melengkapi diri dan menuju lokasi. Tersusun kendaraan operasional pemadam kebakaran yang siap tempur memadamkan api.

Hingga maret 2021 ini, ada 7 kasus kebakaran rumah/gedung dan 2 lahan. Selain itu ada 19 kasus laporan tindakan penyelamatan non kebakaran. Jika terjadi kebakaran dan 113 berdering maka itu sudah biasa. Namun jika masyarakat melaporkan ada hewan berbahaya  (ular phyton, kobra, tawon, biawak, beruang) pohon tumbang menimpa bangunan/orang, korban tenggelam, dan lain-lain, memang belum biasa.

Tim Resque, Hati Puas Meski Alat Minim Tetap Bertindak

Belum banyak yang tahu jika Damkar diluar tugas utamanya untuk menyelamatkan nyawa manusia yang terjebak kebakaran, Damkar juga kerap menerima laporan adanya hewan yang mengancam/terancam. Damkar memiliki Tim Resque yang tidak hanya melalukan tindakan penyelamatan korban kebakaran namun juga non kebakaran. “Di Dinas Damkar Paser, ada 5 Resque  yang bersertifikat dan diakui oleh Kementerian Dalam Negeri. Merekalah yang akan siap melayani masyarakat meski dengan peralatan APD (alat pelindung diri) maupun alat yang masih minim”, ujar Komandan Pleton Isro Jumari.  Jika ditotal secara keseluruhan ada 26 personil yang terbagi menjadi 3 regu bekerja secara shift dengan 12 jam kerja per shift.

Kepada penulis, 5 Resque yaitu Rahmandansyah, Fahrul Risziani, Muhtadin, Suprapto dan Dedi Hariandani bercerita suka duka selama menangani tindakan penyelamatan non kebakaran. Rahmadansyah dengan sumringah mengatakan bahwa ada kepuasan tersendiri ketika kami bisa membantu masyarakat. “Kami merasa senang ketika masyarakat merasa terbantu. Rasanya ada kepuasan tersendiri. Meskipun alat penyelamatan masih minim”, ujarnya. 

Dari  19 laporan non kebakaran, paling banyak adalah laporan ular phyton atau kobra yang masuk kedalam rumah warga dan sarang tawon yang berbahaya. Berbekal peralatan penangkap ular (snake grab tools), tali dan kantong/karung.  Selain itu mereka memiliki alat pemotong pohon yang kecil untuk menangani pohon yang tumbang/rubuh. “Kami paling  sering menangkap ular dan tawon. Pernah ada satu kejadian ketika mengamankan sarang tawon. Karena masih awal-awal, kami belum begitu paham penanganannya sehingga kami pernah disengat tawon. Ada yang bengkak-bengkak, bahkan ada yang dua hari demam”, ujar mereka sambil tertawa mengingat kejadian tersebut.

Namun pernah juga mereka tidak bisa berbuat apa terhadap laporan masyarakat. “Baru-baru ini kami menerima laporan ada Beruang di belakang kantor Kejaksaaan. Tapi karena tidak punya peralatan yang memadai maka kami hanya menjaga dan mengusir agar tidak mengganggu masyarakat”, ujarnya. Padahal terhadap hewan berbahaya ini paling tidak mereka memiliki senapan bius.

Terhadap upaya tindakan penyelamatan, idealnya Resque memiliki 1 unit resque yang isinya lengkap dengan peralatan penindakan penyelamatan hingga alat pelindung diri. “Tapi kami sadar itu sangat mahal. Jadi meskipun dengan peralatan minim kami akan tetap berupaya dengan tetap mengedepankan keselamatan dan kehati-hatian. Pun jika tidak bisa tindakan penyelamatan paling tidak kami hadir”, terang Tatang Kepala Dinas Pemadam Kebakaran. “Kami siap menerima laporan pengaduan masyarakat  1x24 jam di 0543-113 atau 0811.5916.113”, pungkasnya. (hum-df)

Bagikan ke :

Banner

shadow

Berita Terkait

Dimuat dalam 0.1102 detik dengan memori 0.95MB.