Berita:Jalan Rusak, Gubernur Terangi Masa Depan Masyarakat Rantau Buta

Siaran Pers

UCAPAN syukur dan gembira masyarakat Rantau Buta mewarnai peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat Off Grid 24 Kilo Watt Peak (KWP) di Desa Rantau Buta, Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser, Minggu (2/8).

Guna  meresmikan PLTS yang dibangun melalui APBD Provinsi Kaltim Tahun 2020, Gubernur Kaltim H Isran Noor  bersama rombongan dan termasuk Wakil Bupati Paser H Kaharuddin harus melalui jalan poros desa yang kondisinya sangat memprihatinkan. 

Permukaan jalan dibeberapa bagian  berupa tanah merah yang licin untuk mencapai desa yang dikenal memiliki potensi penghasil durian hutan, madu serta beras gunung ini.

 Ini masih diperparah dengan jalan yang  terjal saat menanjak. Sebaliknya curam saat menurun. Lokasi desa ini terletak 12 kilometer dari pertigaan jalan raya Kaltim-Kalsel. Namun kondisi itu tidak menyurutkan niat Gubernur Isran Noor untuk tetap mendatangi lokasi dan bersilaturahmi dengan warga.

Namun meskipun jalan licin dan berkubang hampir 12 kilometer dari jalan poros negara,  sepanjang jalan rombongan terhibur dengan pemandangan jejeran gunung dan hutan yang  diselimuti awan putih. 

 "Saya merasa berbahagia bisa datang ke sini dengan menempuh perjalanan seperti ini. Dulu, untuk bisa sampai ke sini hanya bisa lewat jalur sungai sampai ke Desa Rantau Layung, tapi sekarang bisa lewat jalan darat. Artinya kita harus tetap bersyukur. Kalau tidak salah tahun 2012 jalan akses ini sudah dicor, tetapi karena  dipakai terus  dan campurannya satu sak semen dan satu teruk pasir, ya menjadi seperti ini," ucap Isran di hadapan warga.

Namun lanjut  mantan Ketua Umum APKSI ini, dirinya  terhibur dengan keindahan alam desa Rantau Buta dan menyampaikan bahwa akses jalan dengan kondisi serupa, bahkan jauh lebih parah, juga terdapat di beberapa wilayah Kaltim. 

"Jalan ini sudah bagus, saya tidak heran kalau kadesnya mengeluhkan kondisi jalan ini. Saya setiap berkunjung ke desa-desa, keluhan Kades selalu masalah jalan. Tapi biar bagaimanapun itu akses yang jalan yang saat ini harus dirawat dan dijaga bersama," ujar mantan Wakil Bupati dan Bupati Kutai Timur dua periode  ini.

 Ditemui, Kades Rantau Buta Asran S mengatakan,  pembangunan PLTS ini meningkatkan kualitas hidup masyarakat desanya.

Untu diketahui, sebelum adanya  PLTS, warga hanya mengandalkan pencahayaan tradisional seperti pelita maupun lampu teplok. Hanya segelintir warga dapat menikmati listrik yang bersumber dari genset dengan  patungan untuk bahan bakar dan itupun hanya on dari jam 6 sore hingga 9 malam.

“Saya ucapkan terimakasih kepada pak Gubernur  atas peresmian PLTS  ini. Harapan kami tentu hadirnya PLTS ini  membawa perubahan yang lebih baik terutama untuk kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat,’ ungkapnya.

 Gubernur Kaltim Isran Noor sangat menyadari listrik adalah kebutuhan dasar masyarakat yang wajib tersedia. Memasok listrik di desa terpencil, terisolasi dan tertinggal merupakan salah satu program prioritas Gubernur.

Karena itulah Pemerintah Provinsi Kaltim melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral dalam program diversifikasi energi Tahun Anggaran 2020 telah membangun PLTS Terpadu ‘Off Grid’ di Desa Rantau Batu.

PLTS Terpadu Off Grid berkapasitas 24 kWp dengan panjang jaringan 1,1 kilo meter sirkuit (KMS) itu menghabiskan anggaran senilai Rp3,829 miliar. PLTS Rantau Buta melayani 51 pelanggan, terdiri atas 42 rumah warga dan sembilan fasilitas umum. Jam operasi selama 24 jam yakni setiap jam 17.00 diisi kembali energi listrik sebesar 700 Watt hours per hari.

Energi yang disuplai ke masing-masing pelanggan untuk rumah warga (daya @1 Ampere/230 watt dengan kuota energi perhari 700 watthours). Sedangkan fasilitas umum (daya @1Amphere/230 watt dengan kuota energi perhari 1000 watt hours). Jaringan penerangan jalan sebanyak 26 PJU. (HarMin)

Bagikan ke :

Banner

shadow

Berita Terkait

Dimuat dalam 0.1801 detik dengan memori 0.96MB.